Kata Buku 03: Tawa Hingga Air Mata Dibalik Cerita Keajaiban Toko Kelontong Namiya
Buku karya
penulis legendaris Jepang, Keigo Higashino, “Keajaiban Toko Kelontong Namiya”,
jadi buku ketiga yang aku selesaikan tahun ini. Setelah memutuskan untuk
kembali rutin membaca buku fisik, aku akhirnya memutuskan membeli buku ini di
akhir Juli lalu. Buku ini sudah cukup lama berada di catatan wishlist book
milikku. Pertama kali mengetahuinya, karena aku beberapa kali berkunjung ke
Gramedia untuk sekedar melihat buku-buku baru (yaaa, walau belum benar-benar ingin
membeli buku saat itu). Lalu, aku kembali melihat buku ini, ketika menonton
konten youtube salah satu idol asal negeri ginseng, Korea Selatan. Dan puncak rasa penasannku,
ketika mendengar buku fiksi ini akan dijadikan drama korea dengan deretan artis
populer sebagai pemerannya. Tentu saja, sebagai penikmat karya populer negeri ginseng, aku jadi
penasaran dengan cerita versi bukunya.
Saat membacanya pertama kali, jujur saja, aku tidak menyangka alur ceritanya akan penuh haru seperti itu. Aku memang belum terlalu familiar dengan karya Keigo Sensei, begitu nama akrab penulis legendaris ini dikenal pembacanya. Namun, dari informasi yang aku kumpulkan, ternyata Keigo Sensei dikenal sebagai penulis fiksi misterius dengan karya-karyanya yang penuh plot twist. Sesuai namanya, buku ini menceritakan hal tidak masuk logika yang terjadi di sebuah toko kelontong.
Cerita dimulai dengan sudut pandang tiga orang pemuda. Mereka ternyata kelompok pencuri yang ingin beristirahat di sebuah toko kelontong tua. Namun, siapa sangka, mereka malah menemukan sebuah surat dengan nama samaran yang berisi permintaan saran. Hanya iseng awalnya, mereka malah membalas surat itu. Aku kira, cerita akan terus berlanjut dengan sudut pandang tiga pemuda itu. Ternyata, ada empat sudut pandang lainnya yang disajikan oleh Keigo Sensei dalam buku ini. Semua sudut pandang cerita, berputar pada satu tempat yang sama, yakni Toko Kelontong Namiya. Jujur saja, sebagai pembaca yang cukup lambat, aku harus membolak-balik halaman untuk tetap paham dengan alur ceritanya. Namun, setelah beberapa bagian terlewati, aku jadi cukup familiar dan malah asik menebak-nebak redstring antar tokoh dalam setiap sudut pandang. Menurutku, disinilah titik seru membaca buku ini.
Konsep cerita yang disajikan Keigo Sensei dalam buku ini, membuatku teringat dengan salah satu drama korea berjudul "Light Shop", yang pernah aku tonton di 2024 lalu. Drakor itu juga menunjukkan cerita dari beberapa sudut pandang karakternya yang berpusat pada satu tempat, yakni sebuah toko lampu. Selain konsep ceritanya, buku ini juga mengingatkanku akan suasana penuh haru, kebingungan dan emosi yang aku rasakan saat menonton drakor tersebut. Jadi, aku semakin penasaran dengan alur cerita versi drama dari buku Keigo Sensei ini. Apakah akan sama konsepnya dengan drama "Light Shop"? Yaaa, kita tunggu saja sampai dramanya tayang.
Kembali membahas bukunya. Ada banyak emosi yang aku rasakan ketika berpetualang dengan buku ini. Aku diajak
tertawa melihat tingkah ketiga pemuda di awal ceritanya. Apalagi perbedaan pendapat
dan karakter ketiganya, cukup membuatku terhibur. Namun, dibeberapa bagian, Keigo
Sensei berhasil menyentil sisi F dalam MBTI-ku. Sebagai seorang yang perasa,
aku berhasil menangis dan bertanya-tanya tentang akhir cerita dari salah satu
karakter. Aku cukup menangis lama, ketika selesai membaca bagian tersebut. Aku hanya menyayangkan, bagaimana akhir kisah sang karakter yang menurutku sudah terlalu banyak berjuang untuk mimpinya. Tidak sampai disana, air
mataku kembali pecah saat bertemu dengan kisah sang pemilik tokoh kelontong itu
sendiri, yakni Namiya-san. Sampai aku berharap, “Setidaknya ada satu orang
dewasa yang tulus seperti Namiya-san, yang mau mendengar dan merespon hal-hal tidak
penting sekalipun, tanpa harus menghakimi.”
Sosok
Namiya-san yang digambarkan dalam cerita ini, bagiku mengingatkan pada Almarhum kakekku. Bahkan, ketika sudut pandang berubah pada kisah hidupnya, dibayanganku
Namiya-san memiliki perawakan seperti kakek. Dengan sisa ingatanku, kakek juga
sering sendiri di toko kelontong miliknya dulu, saat aku masih sekolah. Meski
tinggal bersama nenek, kakek dulu sering tidur di toko. Bahkan, saat sakit pun kakek
selalu senang tidur atau sekedar berbaring di toko. Hanya saja, dulu kakekku
tidak membuka jasa konseling lewat surat seperti Namiya-san. Rasa haru terus mengikutiku
hingga di akhir-akhir bagian cerita. Apalagi ketika membaca pesan Namiya-san
kepada tiga pemuda itu, aku menutup buku dengan tangisan lagi. Iya, kamu boleh
menganggapku berlebihan, tetapi jujur saja, itu yang bisa aku bagikan ketika
membaca buku fiksi ini.
Bagiku, buku ini ingin mengajarkan tentang kesempatan dalam hidup. Baik atau buruk kondisi yang tengah kita hadapi, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri ataupun sekedar bertahan. Kadang, kita hanya membutuhkan sudut pandang lain untuk
menanggapi sebuah masalah. Seperti kata Namiya-san,
“Cobalah untuk mengubah sudut pandang. Karena peta Anda masih berupa kertas kosong, Anda jadi bebas menggambar apa saja… Percayalah pada diri sendiri.”
Toko Kelontong Namiya
Hal.398_Keajaiban Toko Kelontong Namiya
Itu dia kata buku ketiga dari blog sederhanaku kali ini. Kira-kira, kamu tim yang mudah terbawa perasaan ketika membaca buku atau tidak? Jika membaca hasil pemikiranku kali ini, apa kamu juga ikut penasaran dengan isi buku Keigo Sensei satu ini?
Identitas Buku:
Judul buku : Keajaiban
Toko Kelontong Namiya
Nama pengarang : Keigo Higashino
Tahun terbit/tahun cetak : 2012/2026
Ketebalan buku/halaman : 20cm/400 halaman
Penerbit : Gramedia
Pustaka Utama
Harga buku : Rp130000
(p.Jawa)


Komentar
Posting Komentar