Kata Buku 01: Mengapa Tuhan Menciptakan Air Mata?
“Jangan pernah menyepelekan atau menyederhanakan masalah yang orang lain alami dengan perspektif kita”
-Urfa Qurrota Ainy, S.Psi
Kalimat itu saya dapat dari buku karya
Urfa Qurrota Ainy, S.Psi di bab pertama halaman 10. Buku itu berjudul, “Jika
Bersedih Dilarang, untuk Apa Tuhan Menciptakan Air Mata?”, hanya dengan membaca
judulnya sudah membuat penasaran, bukan?
Dan ya, itulah yang saya rasakan ketika
pertama kali menemukannya di rak toko buku. Saya ingat sekali, hari itu pertama
kalinya saya membahas kerisauan hati dengan seorang teman dekat. Setelah berpamitan,
saya memutuskan mampir di toko buku dan menemukan buku itu di deretan buku
islami.
Rasa penasaran sudah muncul hanya dengan membaca judulnya. Siapa sangka, penulis menyajikan blurb di belakang sampul buku dengan apik dan semakin meningkatkan rasa penasaran saya. Sayangnya, hari itu saya belum bisa membelinya. Alhasil, saya hanya bisa memotret buku itu, agar suatu hari bisa membawanya pulang.
Ternyata benar, saya sangat menikmati
setiap kata yang penulis sampaikan dalam buku ini. Sebagai penikmat buku fiksi,
jujur saja saya sulit sekali memahami buku nonfiksi dan tidak terlalu
menikmatinya. Namun, buku ini berbeda. Bisa dibilang, ini buku nonfiksi pertama
yang saya baca sampai selesai tanpa bosan dan terbebani. Bahkan, saya bisa
membacanya berulang kali.
Gaya bahasa yang digunakan menurut saya
tidak seperti kebanyakan buku nonfiksi pada umumnya. Penulis menggunakan
kata-kata yang mudah dipahami. Apalagi penulis juga menyelipkan beberapa
pengalaman hidupnya, sehingga pesan yang ingin disampaikannya bisa diterima
dengan baik.
Secara umum, buku ini membahas tentang pandangan islam terhadap psikologi. Bagaimana psikologi dipandang dalam kacamata agama islam, disajikan dengan sangat rapi oleh penulis. Tidak tanggung-tanggung, penulis juga menyajikan ayat Al-Qur’an, hadist dan beberapa penelitian ilmiah tentang kesehatan mental dalam buku ini. Penulis sangat pandai mengaitkan setiap kisah dengan fakta-fakta yang ada.
Mulai dari bab pertama, mata dan pikiran
saya sudah mulai dibuka oleh penulis. Apalagi kalimat di halaman 10 yang saya
cantumkan di awal tulisan ini. Lewat kalimat itu, penulis ingin mengajak
pembaca untuk meningkatkan rasa empati antar sesama. Meskipun setiap manusia
memiliki masalahnya masing-masing, kita tidak bisa menganggap sepele perasaan
seseorang, sebab kita tidak pernah tahu bagaimana ia berjuang keras untuk terus
melanjutkan hidup.
Intinya, melalui buku ini penulis ingin berbagi kisah dan pesan tentang emosi negatif manusia, tentang perasaan tidak baik-baik saja dari sudut pandang islam dan psikologi. Penulis secara tidak langsung membuka pikiran saya tentang banyak hal, terutama tentang menerima semua hal yang tidak berjalan baik dalam hidup, tentang semua hal negatif yang terkadang selalu dilupakan eksistensinya.
Buku ini cocok untuk para pembaca yang ingin didengarkan tanpa merasa dihakimi. Dan untuk mereka yang sudah terlalu lama menahan air mata, penulis buku ini seakan hanya ingin mengatakan, "Tidak apa-apa merasa tidak baik-baik saja, tidak apa-apa untuk menangis, karena kita manusia."
Informasi buku:
Judul: Jika Bersedih Dilarang, untuk Apa
Tuhan Menciptakan Air Mata?
Penulis: Urfa Qurrota Ainy, S.Psi
Jumlah halaman: 266
Tahun terbit: 2022
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Komentar
Posting Komentar