Kata Buku 02: Sebuah Kisah Hangat dari Rani dalam Buku “Musim Yang Tak Sempat Kita Miliki” karya Rintik Sedu
Hai, apa kabar?
Lama tidak bercerita di halaman yang sudah berdebu ini. Kali ini, biar lebih akrab, sepertinya sapaan “Saya” akan diganti dengan “Aku”, biar kesannya lagi cerita sama teman aja 😁
Oh ya, terakhir kali berkunjung sepertinya jauh di akhir tahun 2024 lalu, bercerita tentang buku nonfiksi yang baru selesai dibaca. Iya, terlalu banyak hal berkesan dari buku itu. Sampai rasanya ingin dibaca ulang. Sekarang, di pertengahan 2026 ini, aku mau cerita tentang salah satu buku lainnya. Kali ini buku fiksi yang ingin aku bagikan.
“… Aku meyakini bahwa apa yang digariskan untuk selesai,
ya sudah seharusnya selesai. Kalau kita paksakan untuk berlanjut,
kita juga menghalangi apa yang seharusnya datang berikutnya…”
-Rani-
Hal. 245_Musim yang Tak Sempat Kita Miliki by Rintik Sedu
Potongan kalimat itu, cukup menggelitik ketika aku membacanya pertama kali. Buku ini menjadi buku kedua dari Rintik Sedu yang aku baca, tapi jadi buku pertama yang aku beli sendiri. Sebelum melanjutkan cerita tentang bagaimana menggelitik potongan kalimat itu, aku mau berbagi sedikit tentang jalan buku ini sampai di tanganku. Rintik Sedu alias Paus alias Kak Tsana, sudah cukup lama hadir sebagai salah satu penulis yang aku kagumi. Pertama kali mengenalnya lewat buku “Kata”, yang aku pinjam dari saudara. Lalu, berakhir mengikutinya hingga di sosial media dan podcast.
Ketika pertama kali Kak Tsana memposting tentang buku berjudul "Musim yang Tak Sempat Kita Miliki" ini, kalimat demi
kalimat yang disampaikan cukup membuatku tersenyum geli. Bukan tanpa alasan,
kisah Rani dan Dipta sedikit mengingatkan pada episode romansa dihidupku.
Hahaha…. Sedikit menggelikan ya...
Dan ternyata aku tidak salah sangka. Beberapa waktu kemudian, Kak Tsana memposting prolog dan beberapa bab tulisan buku ini di web Rintik Sedu. Aku ikut membacanya. Lagi-lagi, aku hanya bisa tersenyum. Rani, karakter utama dalam buku ini, cukup membuatku penasaran dengan perasaan dan kisahnya. Karena itu, setiap Kak Tsana membuat postingan tentang bukunya ini, mulai dari cuplikan kalimat, inisial judul buku, sampai cover bukunya, aku selalu antusias. Dan akhirnya, Oktober 2025 lalu, aku berhasil memesan buku ini, melalui salah satu e-commerce. Lebih Istimewa lagi, buku ini menjadi kado ulang tahunku di 26 Oktober 2025 lalu. Dari aku untuk diriku sendiri >_<
Aku baru selesai membacanya awal tahun lalu. Iya, memang cukup jauh jaraknya dari penulisan ulasan ini. Tapi, buku ini cukup membekas, karena kisah Rani tidak berbeda jauh dari kisah nyata yang sempat aku rasakan. Intinya, buku yang Kak Tsana juga kerap sebut dengan MYTSKM ini, bercerita tentang Rani, perempuan yang menyukai hidupnya dan bekerja di sebuah kantor penerbitan buku. Karena sebuah kerjasama dengan brand parfum, Rani akhirnya menulis buku pertamanya. Kisah itu hadir dari seseorang di masa lalunya, bernama Dipta, laki-laki yang datang dan hilang tanpa aba-aba di alur hidup Rani. Bahkan, perasaan yang masih Rani anggap belum tuntas dengan Dipta, membuat kehadiran Surya, rekan kerjanya, menjadi seperti tak terlihat. Tidak, lebih tepatnya, Rani terlalu takut untuk menyadari kehadiran Surya dalam hidupnya.
Cukup dengan beberapa kalimat itu, kamu sudah bisa membayangkan bukan,
bagaimana Rani dan perasaannya? Setiap halaman dalam buku ini, dikemas dengan
kata-kata menyentuh dan penuh perasaan, yang sangat khas dari Kak Tsana. Sebagai
orang yang selalu meromantisasi setiap momen, aku senang membaca deretan
kalimat dari Kak Tsana dalam bukunya kali ini. Apalagi gambaran sosok Surya,
pria dewasa yang tulus menyayangi dengan caranya sendiri, tanpa memaksakan
perasaannya terbalas. Sosok Surya tuh, khas banget jadi gambaran cowok ideal
yang selalu berhasil dibentuk sama penulis perempuan. Dan lebih menyenangkannya
lagi, aku rasa tidak ada karakter yang bisa dibenci di buku ini. Bahkan, sosok
Dipta yang sedikit menyebalkan, tetap punya alasan dari setiap tindakannya. Dan
itu tidak apa-apa.
Hanya saja aku berharap, kisah Rani dan Surya bisa berlanjut, bukan begitu saja di akhir bab 🤭. Meski begitu, keseluruhan buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca. Personal untukku, karena banyak kalimat-kalimat yang membuatku tertampar. Satu kalimat lagi, yang menggelitik, terucap dari Surya, ketika Rani bertanya tentang alasan seseorang pergi, meninggalkan orang yang sempat menghabiskan waktu dengannya.
“… Hidup itu isinya hanya pilihan iya atau enggak.
Daripada memikirkan alasannya, lebih baik menyimpulkan
bahwa dia pergi ya, karena maunya pergi…”
-Surya-
Hal. 113_Musim yang Tak Sempat Kita Miliki by Rintik Sedu
Iyaaa, sebenarnya hubungan antar manusia bisa sesimpel itu, kan ya? Cukup pikirin apa yang ada dikendali kita. Perihal Keputusan orang lain, yang berada diluar kendali diri, tidak bisa kita ubah semau kita. Dan tentunya, tidak perlu memusatkan banyak energi untuk memikirkannya. Kalau pikiran bisa sesimpel itu, kayaknya aku tidak akan masuk perangkap sebagai overthinker, deh... Tapi di balik itu semua, aku selalu percaya, kehadiran seseorang dalam hidup kita, baik yang menetap maupun yang sekedar mampir, semua punya pelajaran sendiri. Iya, kan?
Sepertinya, cukup disini saja ya, cerita kali ini. Kepanjangan, nanti jatuhnya aku jadi oversharing 🤣. Terima kasih sudah mampir dan membaca sampai kalimat ini.
Kira-kira kamu udah baca buku ini, belum? Kalau sudah, bagaimana nih, pengalamanmu ketika membacanya? Atau ada buku lain yang sedang kamu baca sekarang?
Ayo, berbagi di kolom komentar ^^
Identitas Buku:
Judul buku : Musim yang
Tak Sempat Kita Miliki
Nama pengarang : Rintik Sedu
Tahun terbit/tahun cetak : 2025
Ketebalan buku/halaman : 20cm/272 halaman
Penerbit : Gramedia
Pustaka Utama
Harga buku : Rp 99000
(p.Jawa)



Komentar
Posting Komentar