Bercerita 04: Tidak Ada yang Mudah Ketika Menjadi Guru
Kamu pernah dengar tidak, ada yang bilang, “Jadi guru itu mudah. Tinggal datang, minta siswa memperhatikan, mengerjakan tugas dan melempar pertanyaan.”
Jujur saja, aku pernah berpikir
seperti itu. Ketika masih menjadi seorang mahasiswa Pendidikan, aku dengan percaya
dirinya berpikir bahwa setelah lulus, aku akan jadi guru di sebuah sekolah. Aku
akan jadi guru yang baik dan disenangi anak-anak. Semangat dan rasa percaya diri ini aku dapatkan, ketika menjalani tugas magang di salah satu sekolah swasta. Melihat siswa memperhatikan apa yang aku jelaskan, semangat ketika mereka bertanya, sampai ekspresi puas mereka ketika mendengar jawabanku sambil mengangguk, pengalaman itu begitu manis dan menyenangkan untukku. Bayangan menjadi guru yang bisa membuat siswa nyaman, hingga membantu mereka mengatasi masalah belajar atau harapan akan masa depan, hal-hal yang bermanfaat itu, cukup untuk membakar semangatku.
Sayangnya, setelah lulus kuliah di
akhir 2019 lalu, dunia tidak berjalan semulus imajinasiku. Bayangan menjadi guru yang bersemangat di kelas itu, seketika luntur. Bahkan, aku tidak
merasakan perayaan wisuda untuk jenjang S1 yang telah aku jalani selama 4 tahun
3 bulan. Dunia seakan berhenti, sekolah diliburkan, PHK dimana-mana, dan
aku di sebuah rumah di tanah Sumatera saat itu, juga ikut tenggelam.
Aku menghabiskan waktu cukup lama
bekerja di depan layar komputer dan hanya di rumah saja, sembari membagi
peranku sebagai caregiver. Aku juga berulang kali mendengar cemooh atas
keputusanku untuk ikut berhenti sejenak, mengikuti ritme dunia yang juga
mengalami lockdown saat itu. Masa-masa itu rasanya cukup berat, membagi peran
untuk diri sendiri, seseorang yang harus aku bantu, hingga memuaskan ekspektasi
orang terdekat. Dan sepertinya dunia memang sangat tidak ramah bagi semua orang
saat itu, ya.
Beruntungnya, semangatku kembali
menyala dan akhirnya aku memutuskan balik ke lingkungan sosial untuk mencari pekerjaan
tetap, di pertengahan 2021. Namun, tetap saja, ekspektasi untuk
menjadi guru di sebuah Lembaga Pendidikan, tetap belum bisa terwujud. Sampai akhirnya,
aku memutuskan untuk menjalani pekerjaan sebagai guru les private.
Di pertengahan tahun itu,
aku bertemu dengan seorang anak perempuan berusia 4,5 tahun. Anak yang cantik
dan ceria. Iya, pekerjaan pertamaku sebagai guru adalah mendampingi anak
pra-sekolah untuk belajar membaca dan berhitung. Jika kembali melangkah ke belakang,
kala aku belajar biologi di S1 lalu, sebenarnya pekerjaan yang aku ambil
sebagai guru pertama kali saat itu, jauh sekali dari apa yang aku pelajari di
bangku kuliah. Aku hanya memilih sesuatu yang telah pasti kala itu, di
antara berbagai hal-hal tidak pasti tentang panggilan wawancara dan kontrak
kerja.
Sejak menjalani peran sebagai
guru private kala itu, aku mulai mengintropeksi diri. Ternyata, selama ini aku
hidup terlalu sombong dan menganggap semua hal akan berjalan dengan baik,
sesuai keinginan dan rencanaku. Aku yang sempat berpikir akan mudah menjadi
guru, seketika bertekuk lutut dihadapan siswa pertamaku. Mengajar ternyata tidak
semudah kelihatannya. Karena, kita tidak hanya harus memastikan siswa mengerti
materi pelajaran yang kita sajikan. Namun, seorang guru juga harus memastikan siswanya
tetap fokus selama pelajaran berlangsung. Dan disinilah PR besarnya. Apalagi kamu
harus menghadapi anak usia dini yang dunianya masih penuh dengan hal abu-abu.
Iya, memang benar, kesulitan yang
aku hadapi di kelas pertamaku, sebagian besar berasal dari minimnya ilmu dasar yang aku miliki untuk
mendampingi anak usia dini. Karena itu pula, setiap hari, kala berperan sebagai
guru private kala itu, aku juga ikut belajar. Aku mulai mencari tahu tentang
psikologi perkembangan anak, bahan ajar dan media yang ramah bagi anak
pra-sekolah, hingga berbagai ice breaking untuk mengusir bosan.
![]() |
| Bahan ajar pertama yang berhasil kususun. |
Sebagai orang yang senang berkreasi, aku juga mencoba menyusun beberapa bahan ajar sendiri. Salah satunya buku berhitung yang pertama kali aku buat untuk menjadi peganganku kala mengajarkan angka dan dasar berhitung.
Kala amunisi untuk mengajar sudah aku kumpulkan, dan aku juga bisa mendapatkan chemistry dengan sang anak, ternyata cara mengajarku berbentur dengan prinsip orang tua. Ah, aku terlupa satu hal lain, hal yang tidak boleh luput dari pantauan seorang guru. Komunikasi dengan orang tua, menjadi hal yang sangat sulit bagiku saat itu. Apalagi pasca bangkit dari kondisi tidak menyenangkan sebelumnya, berkomunikasi dengan orang lain terasa sangat menyesakkan. Dan saat itu aku harus menata diri agar bisa berkomunikasi dengan wali siswa secara baik dan jelas.
Sayangnya, langkah yang aku ambil tetap tidak memuaskan wali siswaku saat itu. Ekspektasi mereka terlalu tinggi terhadap sang anak. Disisi lain bagiku, hal itu terlalu mendesak anak yang masanya masih bermain, harus bisa membaca dan menulis dengan baik. Cara mengajarku yang masih berdasarkan permainan, buah dari riset pribadiku kala itu, ternyata tidak sesuai dengan prinsip dan ekspektasi orang tuanya. Alhasil, aku tidak bertahan lama memainkan peran sebagai guru private kala itu.
Kembali, aku cukup terpuruk,
karena merasa usaha yang aku lakukan tidak cukup dihargai. Sampai aku
mempertanyakan diriku sendiri, “Apa benar aku layak jadi seorang guru? Bahkan,
untuk mengajar seorang anak saja belum bisa, bagaimana aku harus menghadapi
kelompok anak yang lebih besar?”
Aku langsung teringat ibuku, yang
sudah puluhan tahun bekerja sebagai guru anak usia dini. Hal itu membuatku
semakin kagum padanya. Aku juga sadar, kesabaran yang begitu besar ia miliki,
ternyata benar-benar berguna pada tempatnya. Bayangkan saja, sejak aku kecil
dulu, ibu sudah bekerja menjadi guru PAUD. Menghadapi belasan anak yang sangat
aktif di kelasnya, serta menghadapi aku dan adikku di rumah, sekaligus mengurus keperluan rumah tangga. Membayangkannya saja saat itu, aku tidak sanggup.
Karena itu juga, setiap lelah
dengan dunia yang tidak berjalan sesuai inginku, kembali ke rumah ibu adalah
obat terbaik. Meski harus menghabiskan waktu hampir 6 jam di perjalanan, aku selalu
bersemangat kembali ke rumah tempat aku bisa merasakan hangatnya masakan ibu
dan waktu bercengkrama bersama di meja makan.
Kala memilih rehat di pertengahan
2023 lalu, Ayah ternyata memintaku untuk melanjutkan sekolah. Dengan keyakinan
dari ibu, akhirnya aku memutuskan untuk ikut mendaftar gelombang terakhir
penerimaan mahasiswa baru program pascasarjana saat itu.
Dan benar saja, pilihan orang tua
memang tidak pernah keliru. Aku selalu memegang prinsip, “Jika orang tua rida,
maka Allah juga rida.” Dengan berpegang erat pada prinsip itu, aku menjalani chapter
baru dalam hidupku, kembali menjadi mahasiswa di usia 26 tahun.
Beruntungnya, aku bertemu dengan teman-teman
yang sangat membantu. Sebagian dari mereka membantu pikiranku lebih terbuka,
khususnya tentang bagaimana caranya menjadi seorang guru dan pembelajar seumur
hidup. Apalagi sebagian besar dari mereka adalah praktisi Pendidikan dengan pengalaman
yang tidak bisa dianggap remeh. Dan selama mengikuti kelas di perkuliahan kala
itu, aku banyak belajar, hingga menantang diriku sendiri menjadi lebih baik. Meski
tidak terlalu aktif, tetapi aku berhasil keluar dari zona zaman yang hanya duduk
diam di kelas. Aku sesekali ikut serta dalam diskusi di kelas, hingga berani
ambil peran untuk menjadi penanggung jawab sebuah kegiatan. Iya, dunia kuliahku
kali ini sangat berbeda jauh dari bangku kuliah pertama yang hanya aku habiskan
untuk kuliah-praktikum-pulang.
Di saat itu juga, semangatku
untuk mengajar kembali bangkit. Aku kembali mengambil kelas mengajar private
dan berhasil bertemu dengan dua siswa baruku. Hingga saat ini pun, akhirnya aku
berhasil bertahan lebih lama, meski tidak bekerja sebagai guru formal di Lembaga
Pendidikan, aku sangat menikmati peranku sebagai guru les.
Semangatku rasanya tidak
berhenti, meski terkadang sesekali capek menghantui, aku tetap mencoba mencari
ilmu baru. Mengikuti webinar dan pelatihan adalah hobi baru yang aku kerjakan
saat ini. Salah satu webinar yang aku ikuti di Juli lalu, bersama seorang
praktisi anak usia dini yang akrab dipanggil Miss Eva, sukses mengenalkanku tentang
fondasi dasar mengajar anak membaca dengan metode fonic. Cara ini pun, aku coba kembangkan bersama rekan kerja di bimbel dengan membuat sebuah flashcard.
Dan sejauh aku melangkah,
memainkan peran sebagai guru les, semakin membuatku paham bahwa, guru tidak
pernah lepas dari proses belajar dan mengajar. Lewat proses mengajar, seorang
guru belajar memahami emosi, perilaku dan perkembangan diri manusia lainnya. Ternyata,
tidak ada yang mudah menjadi guru, karena guru memainkan banyak peran dan tanggung
jawab, yang terkadang lebih besar dari apresiasi yang mereka dapatkan. Meski begitu, aku tetap akan berproses menjadi guru yang baik dan terus berkembang, entah itu untuk siswa les yang aku dampingi maupun untuk diriku sendiri.
Wah, cukup panjang juga cerita
kali ini, setelah sebulan terakhir mampir kesini. Terima kasih sudah mau
membaca tulisan panjang yang mungkin isinya hanya curhatan. Aku
tetap berharap kamu bisa mendapat hal positif dari tulisan kali ini. Kamu
juga bisa bagikan cerita paling mengesankan dari sosok guru yang kamu tahu.
Sudah dulu ya, kalau diteruskan
jadi semakin panjang dan bertele-tele ^_^’. Terima kasih sekali lagi, sampai jumpa
di cerita berikutnya >_<.



Komentar
Posting Komentar