Bercerita 01: Berbuat Baik Meninggalkan Nama Baik

 “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”

Kamu sudah sering dong, mendengar peribahasa tersebut? Terdengar sangat familiar, ya. Kata-kata yang tertulis, seakan menunjukkan bahwa, semua yang ada di dunia ini selalu memiliki arti. Selalu ada yang ditinggalkan makhluk, ketika mereka hidup. 

Baik-buruk seseorang selalu diingat, meskipun raganya sudah meninggalkan dunia. Dan tidak perlu menjadi public figure untuk dikenang. Kita sebagai manusia, selalu memiliki orang-orang terdekat yang akan mengenang jasa kita. Entah saat kita masih memijakkan kaki di dunia ini, maupun setelah kita bersatu dengan tanah. 

Mungkin karena itu, ya, kita selalu diingatkan untuk menjadi bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kita. Menjadi pribadi yang berusaha untuk berbuat baik dan tidak merugikan orang lain. Meskipun, kita tidak bisa menyenangkan semua orang, setidaknya kita bisa menyebar kebaikan dan kebahagiaan kepada orang-orang yang membutuhkan kita. 

Pernah, nggak, sih, kepikiran seperti apa sosok diri kita di mata orang lain? Ketika nama kita disebut, hal apa yang pertama kali tergambar di benak orang lain terhadap kita? Apakah kita sudah benar-benar bermanfaat, atau malah sebaliknya?

Iya, kita memang tidak pernah bisa membaca isi pikiran orang lain. Lagi pula, pandangan mereka terhadap diri kita berada di luar kekuasaan kita, bukan? Kita tidak punya kekuasan untuk memaksa mereka terus berpikiran baik tentang kita. Berbuat baik dan ingin dianggap baik, menurut saya menjadi dua hal yang berbeda. 

Ketika kita berbuat baik, kita akan membantu semampu kita, siapa saja yang butuh bantuan tanpa pandang bulu. Dan kita tidak merasa rugi telah melakukan hal tersebut. Kita juga tidak butuh balasan, karena kita melakukannya dengan senang hati. Tentu saja, kita juga paham, kebaikan sekecil apapun, selalu bernilai besar di sisi Allah Subhaanahu wa ta’ala. Karena, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam pernah bersabda, yang artinya:

“… Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat...” (H.R. Muslim). 

Berpegang pada hadist ini, bisa membuat kita belajar ikhlas untuk berbuat baik kepada orang lain. Namun, sebaliknya, ketika kebaikan itu diartikan sebagai sebuah transaksi, tentu kita terus mengharapkan balasan dari perbuatan tersebut. Ketika orang yang menerima kebaikan kita tidak memberikan hal yang sama, kita jadi merasa jengkel, marah dan berkecil hati. Lambat laun, kita jadi tidak ingin berbuat kebaikan lagi. 

Padahal, kebaikan yang kita berikan, tidak selalu mendapat balasan dari orang yang menerima kebaikan itu. Allah selalu punya cara untuk membalas kebaikan-kebaikan yang kita lakukan kepada saudara-saudara kita. Entah dengan kelancaran urusan, makanan enak, hati lapang, apa saja, semuanya bisa menjadi buah dari kebaikan hati kita. 

Begitu pula saat kita menerima kebaikan dari saudara kita. Tidak perlu kita risaukan maksud kebaikan itu, ikhlas atau tidaknya, cukup Allah yang menilai. Tugas kita hanya menghargai kebaikannya dan berusaha ikhlas memberi kebaikan kepada orang lain. 

Dan ketika kita bisa ikhlas melakukan kebaikan sekecil apapun, maka nama kita tidak hanya terkenang baik dibenak makhluk dunia, tetapi juga dikenal oleh penduduk langit.

Jadi, jangan bosan terus berbuat baik, ya. Meskipun hanya dengan mendengarkan keluh kesah saudaramu, atau membersihkan jalan dari ranting pohon. 

***

Assalamu’alaikum

Halo, salam kenal, ini Ceritaya.

Sesuai latar warnanya, biru yang memberikan efek damai dan tenang, Ceritaya hadir dengan rangkaian kata yang harapannya bisa menyejukkan dan menenangkan. Berusaha membagi cerita tentang rasa, cita dan cinta.   

Cerita pertama ini di buka dengan judul, 'Berbuat Baik Meninggalkan Nama Baik', yang menjadi pengingat bagi saya maupun kita semua untuk terus berusaha ikhlas berbuat baik kepada siapa saja. Karena sekecil apapun kebaikan, selalu bernilai besar bagi orang yang menerimanya dan bernilai besar pula disisi Allah.

Nah, menurut teman-teman, bagaimana cerita pertama kita kali ini? Apa menurutmu menjadi baik adalah kewajiban? 

Cerita dan diskusi bersama, yuk ^^

Terima kasih sudah membaca cerita hari ini. Sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya…


Komentar

Postingan Populer